PEGANGAN UMAT ISLAM

"Wahai orang2 yg beriman, taatilah Allah, Rasul dan Pemimpin (ulama) dikalangan kamu. Jika kamu berselisih dalam sesuatu (bab agama) maka kembalilah (rujuk) kpd Allah (Quran) dan RasulNya (sunnah)....."

An Nisa ayat 5

Ku tinggalkan kepadamu (umat Islam) dua pusaka abadi, apabila kamu berpegang kepadanya nescaya kamu tidak akan sesat ,iaitu Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnahku

Hadis riwayat Imam al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas

Wednesday, 28 December 2011

PRINSIP-PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL-JAMA’AH
Oleh
Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah Rab semesta alam yang telah menunjuki kita sekalian kepada cahaya Islam dan sekali-kali kita tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kita petunjuk. Kita memohon kepada-Nya agar kita senantiasa ditetapkan di atas hidayah-Nya sampai akhir hayat, sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”. (Ali-Imran : 102).
Begitu pula kita memohon agar hati kita tidak dicondongkan kepada kesesatan setelah kita mendapat petunjuk.
“Artinya : Ya Allah, janganlah engkau palingkan hati-hati kami setelah engkau memberi kami hidayah”. (Ali Imran : 8).
Dan semoga shalawat serta salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, suri tauladan dan kekasih kita, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diutus-Nya sebagai rahmat bagi alam semesta. Dan semoga ridla-Nya selalu dilimpahkan kepada para sahabatnya yang shalih dan suci, baik dari kalangan Muhajirin mupun Anshar, serta kepada para pengikutnya yang setia selama ada waktu malam dan siang.
Wa ba’du : Inilah beberapa kalimat ringkas tentang penjelasan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah yang pada kenyataan hidup masa kini diperselisihkan oleh umat Islam sehingga mereka terpecah belah. Hal itu terbukti dengan tumbuhnya berbagai kelompok (da’wah) kontemporer dan jama’ah-jama’ah yang berbeda-beda. Masing-masing menyeru manusia (umat Islam) kepada golongannya ; mengklaim bahwa diri dan golongan merekalah yang paling baik dan benar, sampai-sampai seorang muslim yang masih awam menjadi bingung kepada siapakah dia belajar Islam dan kepada jama’ah mana dia harus ikut bergabung. Bahkan seorang kafir yang ingin masuk Islam-pun bingung. Islam apakah yang benar yang harus di dengar dan dibacanya ; yakni ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diterapkan dan tergambar dalam kehidupan para sahabat Rasulullah yang mulia dan telah menjadi pedoman hidup sejak berabad-abad yang lalu ; namun justru dia hanya bisa melihat Islam sebagai sebuah nama besar tanpa arti bagi dirinya.
Begitulah yang pernah dikatakan oleh seorang orientalis tentang Islam : “Islam itu tertutup oleh kaumnya sendiri”, yakni orang-orang yang mengaku-ngaku muslim tetapi tidak konsisten (menetapi) dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
Kami tidak mengatakan bahwa Islam telah hilang seluruhnya oleh karena Allah telah menjamin kelanggengan Islam ini dengan keabadian Kitab-Nya sebagaimana Dia telah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Al-Hijr : 9).
Maka, Pastilah akan senantiasa ada segolongan kaum muslimin yang tetap teguh (konsisten) memegang ajarannya dan memelihara serta membelanya sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya (dari Islam), maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela …”. (Al-Maaidah : 54).
Dan firman Allah.
“Artinya : Ingatlah kamu ini. orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka diantara kamu ada yang bakhil barang siapa bakhil berarti dia bakhil pada dirinya sendiri, Allah Maha Kaya dan kamu orang-orang yang membutuhkan-Nya, dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti ( kamu) dengan kaum selain kalian dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. (Muhammad : 38).
Golongan atau jama’ah yang dimaksud adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits :
“Artinya : Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tetap membela al-haq, mereka senantiasa unggul, yang menghina dan menentang mereka tidak akan mampu membahayakan mereka hingga datang keputusan Allah (Tabaraka wa Ta’la), sedang mereka tetap dalam keadaan yang demikian”. (Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari 4/3641, 7460; dan Imam Muslim 5 juz 13, hal. 65-67 pada syarah Imam Nawawy).
Bertolak dari sinilah kita dan siapa saja yang ingin mengenal Islam yang benar beserta pemeluknya yang setia harus mengenal golongan yang diberkahi ini dan yang mewakili Islam yang benar, Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan ini agar kita bisa mengambil contoh dari berjalan pada jalan mereka dan agar supaya orang kafir yang ingin masuk Islam itupun dapat mengetahui untuk kemudian bisa bergabung.
AL-FIRQOTUN NAJIYAH ADALAH AHLUS SUNNAH WAL-JAMA’AH
Pada masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum muslimin itu adalah umat yang satu sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku (Allah) adalah Rab kalian, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al-Anbiyaa : 92).
Maka kemudian sudah beberapa kali kaum Yahudi dan munafiqun berusaha memecah belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka belum pernah berhasil. Telah berkata kaum munafiq.
“Artinya : Janganlah kamu berinfaq kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar”.
Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah (pada lanjutan ayat yang sama) :
“Padahal milik Allah-lah perbandaharaan langit dan bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami”. (Al-Munafiqun : 7).
Demikian pula, kaum Yahudi-pun berusaha memecah belah dan memurtadkan mereka dari Ad-Din mereka.
“Artinya : Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya) : (pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (para sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada kekafiran”. (Ali Imran : 72).
Walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah berhasil karena Allah menelanjangi dan menghinakan (usaha) mereka.
Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya mereka berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) dengan mengibas-ngibas kaum Anshar tentang permusuhan diantara mereka sebelum datangnya Islam dan perang sya’ir diantara mereka. Allah membongkar makar tersebut dalam firman-Nya.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi Al-Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman”.(Ali Imran : 100).
Sampai pada firman Allah.
“Artinya : Pada hari yang diwaktu itu ada wajah-wajah berseri-seri dan muram ….” (Ali-Imran : 106).
Maka kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kaum Anshar : menasehati dan mengingatkan mereka ni’mat Islam dan bersatunya merekapun melalui Islam, sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman dan berpelukan kembali setelah hampir terjadi perpecahan.(Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/397 dan Asbabun Nuzul Al-Wahidy hal. 149-150) .Dengan demikian gagallah pula makar Yahudi dan tetaplah kaum muslimin berada dalam persatuan. Allah memang memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al-Haq dan melarang perselisihan dan perpecahan sebagaimana firman-Nya.
“Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah belah dan beselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas ……”.(Ali-Imran : 105).
Dan firman-Nya pula.
“Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah ….”.(Ali-Imran : 103).
Dan sesungguhnya Allah telah mensyariatkan persatuan kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah : seperti shalat, dalam shiyam, dalam menunaikan haji dan dalam mencari ilmu. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun telah memerintahkan kaum muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari perpecahan dan perselisihan. Bahkan beliau telah memberitahukan suatu berita yang berisi anjuran untuk bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat sebelumnya ; sabdanya.
“Artinya : Sesunguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-Ku dan sunnah Khulafaa’rasiddin yang mendapat petunjuk setelah Aku”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43).
Dan sabdanya pula.
“Artinya : Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan ; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah ..? ; beliau menjawab : yaitu barang-siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini”. (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 5/2641 dan Al-Hakim di dalam Mustadraknya I/128-129, dan Imam Al-Ajury di dalam Asy-Syari’ah hal.16 dan Imam Ibnu Nashr Al-Mawarzy di dalam As-Sunnah hal 22-23 cetakan Yayasan Kutubus Tsaqofiyyah 1408, dan Imam Al-Lalikaai dalam Syar Ushul I’tiqaad Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah I nomor 145-147).
Sesungguhnya telah nyata apa-apa yang telah diberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar pada kondisi umat semasa generasi yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya.
“Artinya : Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya”.(Dikeluarkan oleh Bukhari 3/3650, 3651 dan Muslim 6/juz 16 hal 86-87 Syarah An-Nawawy).
Perawi hadits ini berkata : “saya tidak tahu apakah Rasulullah menyebut setelah generasinya dua atau tiga kali”.
Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mufassirin dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabi’in dan pengikut para tabi’in serta para imam yang empat dan murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya daulah-dualah Islamiyah pada abad-abad tersebut, sehingga firqah-firqah menyimpang yang mulai ada pada waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari segi hujjah maupun kekuatannya.
Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa agama-agama yang bertentangan. Diterjemahkannya kitab ilmu ajaran-ajaran kuffar dan para raja Islam-pun mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka semakin dahsyatlah perselisihan di kalangan umat dan bercampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran. Begitupun madzhab-madzhab yang batilpun ikut bergabung dalam rangka merusak persatuan umat. Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Walaupun demikian kita tetap bersyukur kepada Allah karena Al-Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah masih tetap berada dalam keadaan berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar berjalan diatasnya, dan menyeru kepadanya ; bahkan akan tetap berada dalam keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah demi langgenggnya Din ini dan tegaknya hujjah atas para penentangnya.
Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini berada di atas apa-apa yang pernah ada semasa sahabat Radhiyallahu ‘anhum bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam perkataan perbuatan maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh beliau.
“Artinya : Mereka yaitu barangsiapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini” (Telah berlalu penjelasannya di atas -peny).
Sesungguhnya mereka itu adalah sisa-sisa yang baik dari orang-orang yang tentang mereka Allah telah berfirman.
“Artinya : Maka mengapakah tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan (shalih) yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil diantara orang-orang yang telah kami selamatkan diantara mereka, dan orang-orang yang dzolim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka ; dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”. (Huud : 116).
NAMA-NAMA AL-FIQOTUN NAAJIYAH DAN ARTINYA
Setelah kita mengetahui bahwa kelompok ini adalah golongan yang selamat dari kesesatan, maka tibalah giliran bagi kita untuk mengetahui pula nama-nama beserta ciri-cirinya agar kita dapat mengikutinya. Sebenarnyalah kelompok ini memiliki nama-nama agung yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain. Dan diantara nama-namanya adalah : Al-Firqotun Najiyah (golongan yang selamat) ; Ath-Thooifatul Manshuroh (golongan yang ditolong) ; dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang artinya adalah sebagai berikut.
1.                  Bahwasanya kelompok ini adalah kelompok yang selamat dari api neraka sebagaimana telah dikecualikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan kelompok-kelompok yang ada pada umatnya dengan sabdanya : “Seluruhnya di atas neraka kecuali satu ; yakni yang tidak masuk kedalam neraka”.(Telah terdahulu keterangannya)
2.                  Bahwasanya kelompok ini adalah kelompok yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan apa-apa yang dipegang oleh As-Saabiqunal Awwalun (para pendahulu yang pertama) baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, sebagaimana di sabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka itu adalah siapa-siapa yang berjalan diatas apa-apa yang aku dan sahabatku lakukan hari ini”.(Telah terdahulu keterangannya)
3.                  Bahwasanya pemeluk kelompok ini adalah mereka yang menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka itu bisa dibedakan dari kelompok lainnya pada dua hal penting ; pertama. berpegang teguhnya mereka terhadap As-Sunnah sehingga mereka di sebut sebagai pemeluk sunnah (Ahlus Sunnah). Berbeda dengan kelompok-kelompok lain karena mereka berpegang teguh dengan pendapat-pendapatnya, hawa nafsunya dan perkataan para pemimpinnya. Oleh karena itu, kelompok-kelompok tersebut tidak dinisbatkan kepada Sunnah, akan tetapi dinisbatkan kepada bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan yang ada pada kelompok itu sendiri, seperti Al-Qadariyah dan Al-Murji’ah ; atau dinisbatkan kepada para imam-nya seperti Al-Jahmiyah ; atau dinisbatkan pada pekerjaan-pekerjaannya yang kotor seperti Ar-Rafidhah dan Al-Khawarij. Adapun perbedaan yang kedua adalah bahwasanya mereka itu Ahlul Jama’ah karena kesepakatan mereka untuk berpegang teguh dengan Al-Haq dan jauhnya mereka dari perpecahan. Berbeda dengan kelompok-kelompok lain, mereka tidak bersepakat untuk berpegang teguh dengan Al-Haq akan tetapi mereka itu hanya mengikuti hawa nafsu mereka, maka tidak ada kebenaran pada mereka yang mampu menyatukan mereka.
4.                  Bahwasanya kelompok ini adalah golongan yang ditolong Allah sampai hari kiamat. Karena gigihnya mereka dalam menolong dinullah maka Allah menolong mereka, seperti difirmankan Allah :“Jika kamu menolong Allah niscaya Allah akan menolong mereka”.(Muhammad : 7) . Oleh karena itu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidaklah yang menghina dan menentang mereka itu akan mampu memadlorotkan (membahayakan) mereka sampai datang keputusan Allah Tabaraka wa Ta’ala sedang mereka itu tetap dalam keadaan demikian”. (Telah terdahulu keterangannya).
Sesungguhnynya Ahlus Sunnah wal Jama’ah berjalan di atas prinsip-prinsip yang jelas dan kokoh baik dalam itiqad, amal maupun perilakunya. Seluruh prinsip-prinsip yang agung ini bersumber pada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dan apa-apa yang dipegang oleh para pendahulu umat dari kalangan sahabat, tabi’in dan para pengikut mereka yang setia.
Prinsip-prinsip tersebut teringkas dalam butir-butir berikut :
Prinsip Pertama
Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan Taqdir baik dan buruk.
1. Iman kepada Allah
Beriman kepada Allah artinya berikrar dengan macam-macam tauhid yang tiga serta beriti’qad dan beramal dengannya yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluuhiyyah dan tauhid al-asmaa wa -ash-shifaat. Adapun tauhid rububiyyah adalah menatauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan ; dan bahwasanya Dia itu adalah Raja dan Penguasa segala sesuatu.
Tauhid uluuhiyyah artinya mengesakan Allah melalui segala pekerjaan hamba yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah apabila memang hal itu disyari’atkan oleh-Nya seperti berdo’a, takut, rojaa’ (harap), cinta, dzabh (penyembelihan), nadzr (janji), isti’aanah (minta pertolongan), al-istighotsah (minta bantuan), al-isti’adzah (meminta perlindungan), shalat, shaum, haji, berinfaq di jalan Allah dan segala apa saja yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun baik seorang malaikat, nabi, wali maupun yang lainnya.
Sedangkan makna tauhid al-asma wash-shifaat adalah menetapkan apa-apa yang Allah dan Rasuln-Nya telah tetapkan atas diri-Nya baik itu berkenaan dengan nama-nama maupun sifat-sifat Allah dan mensucikan-Nya dari segala ‘aib dan kekurangan sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua ini kita yakini tanpa melakukantamtstil (perumpamaan), tanpa tasybiih (penyerupaan), tahrif(penyelewengan), ta’thil (penafian), dan tanpa takwil ; seperti difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Tak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Asy-Syuro : 11)
Dan firman Allah pula.
“Artinya : Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdo’alah kamu dengannya”. (Al-A’raf : 180).
2. Beriman kepada Para Malaikat-Nya
Yakni membenarkan adanya para malaikat dan bahwasanya mereka itu adalah mahluk dari sekian banyak mahluk Allah, diciptakan dari cahaya. Allah mencitakan malaikat dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya dan menjalankan perintah-perintah-Nya di dunia ini, sebagaimana difirmankan Allah.
“Artinya : ….Bahkan malaikat-malaikat itu adalah mahluk yang dumuliakan, mereka tidak mendahulu-Nya dalam perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya”. (Al-Anbiyaa : 26-27).
“Artinya : Allahlah yang menjadikan para malaikat sebagai utusan yang memiliki sayap dua, tiga dan empat ; Allah menambah para mahluk-Nya apa-apa yang Dia kehendaki”. (Faathir : 1)
3. Iman kepada Kitab-kitab-Nya
Yakni membenarkan adanya Kitab-kitab Allah beserta segala kandungannya baik yang berupa hidayah (petunjuk) dan cahaya serta mengimani bahwasanya yang menurunkan kitab-kitab itu adalah Allah sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Dan bahwasanya yang paling agung diantara sekian banyak kitab-kitab itu adalah tiga kitab yaitu Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan di antara ketiga kitab agung tersebut ada yang teragung yakni Al-Qur’an yang merupakan mu’jizat yang agung. Allah berfirman.
“Artinya : Katakanlah (Hai Muhammad) : ‘sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walaupun sesama mereka saling bahu membahu”. (Al-isra : 88)
Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengimani bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam (firman) Allah ; dan dia bukanlah mahluq baik huruf maupun artinya. Berebda dengan pendapat golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk baik huruf maupun maknanya. Berbeda pula dengan pendapat Asyaa’irah dan yang menyerupai mereka, yang mengatakan bahwa kalam (firman) Allah hanyalah artinya saja, sedangkan huruf-hurufnya adalah mahluk. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kedua pendapat tersebut adalah bathil berdasarkan firman Allah.
“Artinya : Dan jika ada seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar KALAM ALLAH (Al-Qur’an)”. (At-Taubah : 6)
“Artinya : Mereka itu ingin merubah KALAM Allah”. (Al-Fath : 15)
4. Iman Kepada Para Rasul
Yakni membenarkan semua rasul-rasul baik yang Allah sebutkan nama mereka maupun yang tidak ; dari yang pertama sampai yang terkahir, dan penutup para nabi tersebut adalah nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya pula, beriman kepada para rasul seluruhnya dan beriman kepada Nabi kita secara terperinci serta mengimani bahwasanya beliau adalah penutup para nabi dan rasul dan tidak ada nabi sesudahnya ; maka barangsiapa yang keimanannya kepada para rasul tidak demikian berarti dia telah kafir. Termasuk pula beriman kepada para rasul adalah tidak melalaikan dan tidak berlebih-lebihan terhadap hak mereka dan harus berbeda dengan kaum Yahudi dan Nashara yang berlebih-lebihan terhadap para rasul mereka sehingga mereka menjadikan dan memperlakukan para rasul itu seperti memperlakukan terhadap Tuhanya (Allah) sebagaimana yang difirmankan Allah.
“Artinya : Dan orang-orang Yahudi berkata : ‘Uzair itu anak Allah ; dan orang-orang Nasharani berkata :’Isa Al-Masih itu anak Allah…”.( At-Taubah : 30)
Sedang orang-orang sufi dan para ahli filsafat telah bertindak sebaliknya. Mereka telah meerendahkan dan menghinakan hak para rasul dan lebih mengutamakan para pemimpin mereka, sedang kaum penyembah berhala dan atheis telah kafir kepada seluruh rasul tersebut. Orang-orang Yahudi telah -kafir terhadap Nabi Isa dan Muhammad ‘alaihima shalatu wa sallam ; sedangkan orang-orang Nashara telah kafir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan orang-orang yang mengimani sebagian- mengingkari sebagian (dari para rasul Allah), maka dia telah mengingkari dengan seluruh rasul, Allah telah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang kafur kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan bermaksud memperbedakan antara (keimana kepada) Allah dan Rasul-Nya, dengan mengatakan : Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir kepada sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan diantara yang demikian (iman dan kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya, kami telah menyediakan untuk mereka siksa yang menghinakan”. (An-Nisaa : 150-151).
Dan Allah juga berfirman.
“Artinya : Kami tidak mebeda-bedakan satu diantara Rasul-rasul-Nya ….”.(Al-Baqarah : 285)
5. Iman Kepada Hari Akhirat
Yakni membenarkan apa-apa yang akan terjadi setelah kematian dari hal-hal yang telah diberitakan Allah dan Rasul-Nya baik tentang adzab dan ni’mat kubur, hari kebangkitan dari kubur, hari berkumpulnya manusia di padang mahsyar, hari perhitungan dan ditimbangnya segala amal perbuatn dan pemberian buku laporan amal dengan tangan kanan atau kiri, tentang jembatan (sirat), serta syurga dan neraka. Disamping itu keimanan untuk bersiap sedia dengan amalan-amalan sholeh dan meninggalkan amalan sayyi-aat (jahat) serta bertaubat dari padanya.
Dan sungguh telah mengingkari adanya hari akhir orang-orang musyrik dan kaum dahriyyun, sedang orang-orang Yahudi dan Nashara tidak mengimani hal ini dengan keimanan yan benar sesuai dengan tuntutan, walau mereka beriman akan adanya hari akhir. Firman Allah.
“Artinya : Dan mereka (Yahudi dan Nashara) berkata : ‘Sekali-kali tidaklah masuk syurga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nashara. Demikianlah angan-angan mereka ……”.(Al-Baqarah : 111).
“Artinya : Dan mereka berkata : Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali hanya dalam beberapa hari saja”. (Al-Baqarah : 80).
6. Iman kepada taqdir.
Yakni beriman bahwasanya Allah itu mengetahui apa-apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi; menentukan dan menulisnya dalam lauhul mahfudz ; dan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir, iman, ta’at, ma’shiyat, itu telah dikehendaki, ditentukan dan diciptakan-Nya ; dan bahwasanya Allah itu mencintai keta’atan dan membenci kemashiyatan.
Sedang hamba Allah itu mempunyai kekuasaan, kehendak dan kemampuan memilih terhadap pekerjaan-pekerjaan yang mengantar mereka pada keta’atan atau ma’shiyat, akan tetapi semua itu mengikuti kemauan dan kehendak Allah. Berbeda dengan pendapat golongan Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia terpaksa dengan pekerjaan-pekerjaannya tidak memiliki pilihan dan kemampuan sebaliknya golongan Qodariyah mengatakan bahwasanya hamba itu memiliki kemauan yang berdiri sendiri dan bahwasanya dialah yang menciptkan pekerjaan dirinya, kemauan dan kehendak hamba itu terlepas dari kemauan dan kehendak Allah.
Allah benar-benar telah membantah kedua pendapat di atas dengan firman-Nya.
“Artinya : Dan kamu tidak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabila Allah menghendakinya”. (At-Takwir : 29)
Dengan ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi setiap hamba sebagai banyahan terhadap Jabariyah yang ekstrim, bahkan menjadikannya sesuai dengan kehendak Allah, hal ini merupakan bantahan atas golongan Qodariyah. Dan beriman kepada taqdir dapat menimbulkan sikap sabar sewaktu seorang hamba menghadapi cobaan dan menjauhkannya dari segala perbuatan dosa dan hal-hal yang tidak terpuji. bahkan dapat mendorong orang tersebut untuk giat bekerja dan menjauhkan dirinya dari sikap lemah, takut dan malas.
Prinsip Kedua
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah : bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan dan keyakinan yang bisa bertambah dengan keta’atan dan berkurang dengan kema’shiyatan, maka iman itu bukan hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan sebab yang demikian itu merupakan keimanan kaum munafiq, dan bukan pula iman itu hanya sekedar ma’rifah (mengetahui) dan meyakini tanpa ikrar dan amal sebab yang demikian itu merupakan keimanan orang-orang kafir yang menolak kebenaran. Allah berfirman.
“Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kedzoliman dan kesombongan (mereka), padahal hati-hati mereka meyakini kebenarannya, maka lihatlah kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan itu”. (An-Naml : 14)
“Artinya : ……. karena sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, akan tetapi orang-orang yang dzolim itu menentang ayat-ayat Allah”. (Al-An’aam : 33)
“Artinya : Dan kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu kehancuran tempat-tempat tinggal mereka. Dan syetan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah padahal mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam” (Al-Ankabut : 38)
Bukan pula iman itu hanya suatu keyakinan dalam hati atau perkataan dan keyakinan tanpa amal perbuatan karena yang demikian adalah keimanan golongan Murji’ah ; Allah seringkali menyebut amal perbuatan termasuk iman sebagaimana tersebut dalam firman-Nya.
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang apabila ia disebut nama Allah tergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya dan kepada Allahlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan apa-apa yang telah dikaruniakan kepada mereka. Merekalah orang-orang mu’min yang sebenarnya …” (Al-Anfaal : 2-4).
“Artinya : Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian” (Al-Baqarah : 143).
Prinsip Ketiga
Dan diantara prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwasanya mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya. Adapun perbuatan dosa besar selain syirik dan tidak ada dalil yang menghukumi pelakunya sebagai kafir. Misalnya meninggalkan shalat karena malas, maka pelaku (dosa besar tersebut) tidak dihukumi kafir akan tetapi dihukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila dia mati sedang dia belum bertaubat maka dia berada dalam kehendak Allah. Jika Dia berkehendak Dia akan mengampuninya, namun si pelaku tidak kekal di neraka, telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa-dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya …” (An-Nisaa : 48).
Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini berada di tengah-tengah antara Khawarij yang mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar walau bukan termasuk syirik dan Murji’ah yang mengatakan si pelaku dosa besar sebagai mu’min sempurna imannya, dan mereka mengatakan pula tidak berarti suatu dosa/ma’shiyat dengan adanya iman sebagaimana tak berartinya suatu perbuatan ta’at dengan adanya kekafiran.
Prinsip Keempat
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya ta’at kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kema’skshiyatan, apabila mereka memerintahkan perbuatan ma’shiyat, dikala itulah kita dilarang untuk menta’atinya namun tetap wajib ta’at dalam kebenaran lainnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul serta para pemimpin diantara kalian …” (An-Nisaa : 59)
Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Dan aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian seorang hamba”.(Telah terdahulu takhrijnya, merupakan potongan hadits ‘Irbadh bin Sariyah tentang nasihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya).
Dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang bahwa ma’shiyat kepada seorang amir yang muslim itu merupakan ma’shiyat kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabdanya.
“Artinya : Barangsiapa yang ta’at kepada amir (yang muslim) maka dia ta’at kepadaku dan barangsiapa yang ma’shiyat kepada amir maka dia ma’shiyat kepadaku”. (Dikelaurkan oleh Bukhari 4/7137, Muslim 4 Juz 12 hal. 223 atas Syarah Nawawi).
Demikian pula, Ahlus Sunnah wal Jama’ah-pun memandang bolehnya shalat dan berjihad di belakang para amir dan menasehati serta medo’akan mereka untuk kebaikan dan keistiqomahan.
Prinsip Kelima
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah haramnya keluar untuk memberontak terhadap pemimpin kaum muslimin apabila mereka melakukan hal-hal yang menyimpang, selama hal tersebut tidak termasuk amalan kufur. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wajibnya ta’at kepada mereka dalam hal-hal yang bukan ma’shiyat dan selama belum tampak pada mereka kekafiran yang jelas. Berlainan dengan Mu’tazilah yang mewajibkan keluar dari kepemimpinan para imam/pemimpin yang melakukan dosa besar walaupun belum termasuk amalan kufur dan mereka memandang hal tersebut sebagai amar ma’ruf nahi munkar. Sedang pada kenyataannya, keyakinan Mu’tazilah seperti ini merupakan kemunkaran yang besar karena menuntut adanya bahaya-bahaya yang besar baik berupa kericuhan, keributan, perpecahan dan kerawanan dari pihak musuh.
Prinsip Keenam
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bersihnya hati dan mulut mereka terhadap para sahabat Rasul Radhiyallahu ‘anhum sebagaimana hal ini telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengkisahkan Muhajirin dan Anshar dan pujian-pujian terhadap mereka.
“Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan : Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian kepada orang-orang yang beriman : Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Al-Hasyr : 10).
Dan sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku ditangan-Nya, kalau seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan mencapai segenggam kebaikan salah seorang diantara mereka tidak juga setengahnya”. (Dikeluarkan oleh Bukhary 3/3673, dan Muslim 6/ Juz 16 hal 92-93 atas Syarah Nawawy).
Berlainan dengan sikap orang-orang ahlul bid’ah baik dari kalangan Rafidhoh maupun Khawarij yang mencela dan meremehkan keutamaan para sahabat.
Ahlus Sunnah memandang bahwa para khalifah setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhumajma’in. Barangsiapa yang mencela salah satu khalifah diantara mereka, maka dia lebih sesat daripada keledai karena bertentangan dengan nash dan ijma atas kekhalifahan mereka dalam silsilah seperti ini.
Prinsip Ketujuh
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya.
“Artinya : Sesunnguhnya aku mengingatkan kalian dengan ahli baitku”. ( Dikeluarkan Muslim 5 Juz 15, hal 180 Nawawy, Ahmad 4/366-367 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629).
Sedang yang termasuk keluarga beliau adalah istri-istrinya sebagai ibu kaum mu’minin Radhiyallahu ‘anhunna wa ardhaahunna. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah menegur mereka.
“Artinya : Wahai wanita-wanita nabi ……..”.(Al-Ahzab : 32)
Kemudian mengarahkan nasehat-nasehat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”. ( Al-Ahzab : 33)
Pada pokoknya ahlul bait itu adalah saudara-saudara dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang dimaksud disini khususnya adalah yang sholeh diantara mereka. Sedang sudara-saudara dekat yang tidak sholeh seperti pamannya, Abu Lahab maka tidak memiliki hak. Allah berfirman.
“Artinya : Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya celaka dia”. (Al-Lahab : 1).
Maka sekedar hubungan darah yang dekat dan bernisbat kepada Rasul tanpa keshalehan dalam ber-din (Islam), tidak ada manfaat dari Allah sedikitpun baginya, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya :Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di hadapan Allah sedikitpun ; ya Abbas paman Rasulullah, aku tidak dapat memberikan manfa’at apapun di hadapan Allah. Ya Shofiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberi manfaat apapun di hadapan Allah, ya Fatimah anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah”. (Dikeluarkan oleh Bukhary 3/4771, 2/2753, Muslim 1 Juz 3 hal 80-81 Nawawy).
Dan saudara-saudara Rasulullah yang sholeh tersebut mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap mereka dengan mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepada mereka. Adapaun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau madlarat selain dari Allah adalah bathil, sebab Allah telah berfirman.
“Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemadlaratan dan manfaat bagi kalian”. (Al-Jin : 21).
“Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Aku tidak memiliki manfaat atau madlarat atas diriku kecuali apa-apa yang tidak dikehendaki oleh Allah , kalaulah aku mengetahui yang ghaib sunguh aku aka perbanyak berbuat baik dan aku tidak akan ditimpa kemadlaratan”.(Al-A’raf : 188)
Apabila Rasulullah saja demikian, maka bagaimana pula yang lainnya. Jadi, apa yang diyakini sebagian manusia terhadap kerabat Rasul adalah suatu keyakinan yang bathil.
Prinsip Kedelapan
Dan diantara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah membenarkan adanya karomah para wali yaitu apa-apa yang Allah perlihatkan melalui tangan-tangan sebagian mereka, berupa hal-hal yang luar biasa sebagai penghormatan kepada mereka sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sedang golongan yang mengingkari adanya karomah-karomah tersebut daintaranya Mu’tazilah dan Jahmiyah, yang pada hakikatnya mereka mengingkari sesuatu yang diketahuinya. Akan tetapi kita harus mengetahui bahwa ada sebagian manusia pada zaman kita sekarang yang tersesat dalam masalah karomah, bahkan berlebih-lebihan, sehingga memasukkan apa-apa yang sebenarnya bukan termasuk karomah baik berupa jampi-jampi, pekerjaan para ahli sihir, syetan-syetan dan para pendusta. Perbedaan karomah dan kejadian luar biasa lainnya itu jelas, Karomah adalah kejadian luar biasa yang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya yang sholeh, sedang sihir adalah keluar biasaan yang biasa diperlihatkan para tukang sihir dari orang-orang kafir dan atheis dengan maksud untuk menyesatkan manusia dan mengeruk harta-harta mereka. Karomah bersumber pada keta’atan, sedang sihir bersumber pada kekafiran dan ma’shiyat.
Prinsip Kesembilan
Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwa dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa yang datang dari Kitab Allah dan atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara lahir maupun bathin dan mengikuti apa-apa yang dijalankan oleh para sahabat dari kaum Muhajirin maupun Anshar pada umumnya dan khususnya mengikuti Al-Khulafaur-rasyidin sebagaimana wasiat Rasulullah dalam sabdanya.
“Artinya : Berepegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyid-iin yang mendapat petunjuk”. (Telah terdahulu takhrijnya).
Dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mendahulukan perkataan siapapun terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah. Oleh karena itu mereka dinamakan Ahlul Kitab Was Sunnah. Setelah mengambil dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka mengambil apa-apa yang telah disepakati ulama umat ini. Inilah yang disebut dasar yang pertama ; yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Segala hal yang diperselisihkan manusia selalu dikembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah telah berfirman.
“Artinya : Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari akhir, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya”. (An-Nisaa : 59)
Ahlus Sunnah tidak meyakini adanya kema’shuman seseorang selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka tidak berta’ashub pada suatu pendapat sampai pendapat tersebut bersesuaian dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid itu bisa salah dan benar dalam ijtihadnya. Mereka tidak boleh berijtihad sembarangan kecuali siapa yang telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul ‘ilmi.
Perbedaan-perbedaan diantara mereka dalam masalah ijtihad tidak boleh mengharuskan adanya permusuhan dan saling memutuskan hubungan diantara mereka, sebagaimana dilakukan orang-orang yang ta’ashub dan ahlul bid’ah. Sungguh mereka tetap metolerir perbedaan yang layak (wajar), bahkan mereka tetap saling mencintai dan berwali satu sama lain ; sebagian mereka tetap shalat di belakang sebagian yang lain betapapun adanya perbedaan masalah far’i (cabang) diantara mereka. Sedang ahlul bid’ah saling memusuhi, mengkafirkan dan menghukumi sesat kepada setiap orang yang menyimpang dari golongan mereka.
Penutup
Kemudian dengan adanya prinsip-prinsip yang dikemukakan dimuka, mereka senantiasa ber-akhlak mulia sebagai pelengkap aqidah yang diyakininya.
Diantara sifat-sifat yang agung itu adalah :
Pertama
Mereka beramar ma’ruf dan nahi mungkar seperti yang telah diwajibkan syari’at dalam firman Allah berikut.
“Artinya : Jadilah kalian umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, beramar ma’ruf dan nahi munkar dan kalian beriman kepada Allah”. (Ali-Imran : 110).
“Artinya : Barangsiapa diantara kamu menyaksikan suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, apabila tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itulah selemah-lemah iman”. (Dikeluarkan oleh Muslim 1/Juz 2 hal. 22-25 syarah Nawawy dari Abu Sa’id Al-Khudry).
Sekali lagi, amar ma’ruf nahi munkar hanya terhadap apa-apa yang diwajibkan oleh syari’at. Sedangkan golongan Muta’zilah mengeluarkan amar ma’ruf dan nahi munkar dari apa-apa yang diwajibkan oleh syara, sehingga mereka berpandangan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah keluar dari para pemimpin kaum muslimin apabila mereka melakukan ma’shiyat walaupun belum termasuk perbuatan kufur. Sedang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah memandang wajib menasehati mereka dalam hal kema’shiyatannya tanpa harus memberontak kepada mereka. Hal ini dilakukan dalam rangka mempersatukan kalimat dan menghindari perpecahan dan perselisihan. Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : Barangkali hampir tidak dikenal suatu kelompok keluar memberontak terhadap pemilik kekuasaan kecuali lebih banyaknya kerusakan yang terjadi ketimbang terhapusnya kemunkaran (melalui cara pemberontakan tersebut).
Kedua.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjaga tetap tegaknya syi’ar Islam baik dengan menegakkan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah sebagai pembeda terhadap kalangan ahlul bid’ah dan orang-orang munafik yang tidak mendirikan shalat Jum’at maupun shalat Jama’ah.
Ketiga
Menegakkan nasehat bagi setiap muslim dan bekerja sama serta tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Ad-Din itu nasehat, kami bertanya : untuk siapa .? Beliau menjawab : Untuk Allah dan Rasul-Nya dan para imam kaum muslimin serta kaum muslimin pada umumnya”.(Dikeluarkan oleh Muslim I/Juz 2 hal. 36-37 syarah Nawawy, Abu Daud 5/49944, dan An-Nasaai 7/4197, Imam Ahmad 4/102 dari Tamiim Ad-Dary).
“Artinya : Mu’min yang satu bagi mu’min yang lain bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling mengokohkan”. (Dikeluarkan oleh Bukhary 4/6026 dan Muslim 6/Juz 16 hal. 139 syarah Nawawy).
Keempat.
Mereka tegar dalam menghadapi ujian-ujian dengan sabar ketika mendapat cobaan-cobaan dan bersyukur ketika mendapatkan keni’matan dan menerimanya dengan ketentuan Allah.
Kelima
Bahwasanya mereka selalu berahlak mulia dan beramal baik, berbuat baik kepada kedua orang tua, menyambung tali persaudaraan, berlaku baik dengan tetangga, dan mereka senantiasa melarang dari sikap bangga, sombong, dzolim (aniaya) sesuai dengan firman Allah.
“Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib, kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (An-Nisaa : 36)
“Artinya : Sesempurna-sempurna iman seorang mu’min adalah yang baik ahlaknya”. (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 13 No. 7396, Tirmidzi 3/1162, Abu Daud 5/4682, dan Al-Haitsamy dalam Mawarid No. 1311, 1926).
Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar berkenan menjadikan kita semua bagian dari mereka dan tidak menjadikan hati kita condong kepada kekafiran setelah diberi petunjuk (hidayah-Nya) dan semoga shalawat serta salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya beserta shabat-sahabatnya. Aamin.
Sumber : Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Ahlus Sunah Wal Jama’ah oelh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh, penerjemah Abu Aasia


Tuesday, 27 December 2011

Fadilat Tarawikh...Hadis Palsu Yang Wajib Dihindari....
KEPALSUAN HADIS KELEBIHAN TARAWIH

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang. Puji-pujian bagi Allah Subhanahu wata'ala, selawat dan salam keatas junjungan kita Nabi Muhammad Sallaahu 'alaihi wasallam serta para sahabatnya.

Sejak beberapa tahun kebelakangan ini satu hadis tentang kelebihan tarawikh pada malam-malam ramadhan telah tersebar dengan meluas sekali. Media-media elektronik,media-media cetak serta media-media massa turut sama memainkan peranan mereka menyebarkannya melalui akhbar-akhbar, dairi-dairi Islam, TV, radio, risalah-risalah dan lain-lain dengan harapan semoga mereka mendapat saham dalam usaha menggalakkan umat Islam supaya rajin beramal ibadat terutamanya dalam bulan yang diberkati itu.

Hadis yang dimaksudkan itu ialah satu hadis yang agak panjang kononnya diriwayatkan oleh Sayyidina Ali r.a. yang sebahagian darinya adalah seperti berikut : "Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda berkenaan dengan fadhilat sembahyang tarawih pada bulan Ramadhan antaranya:

· Malam Pertama: Keluar dosa-dosa orang mukmin pada malam pertama seperti mana dia baru dilahirkan (mendapat keampunan dari Allah Taala).

· Malam Keempat: Mendapat pahala sebagaimana pahala orang-orang yang membaca kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran.

· Malam Keenam: Allah kurniakan pahala kepadanya pahala malaikat-malaikat yang tawaf di Baitul-Ma`mur (sebanyak 70 ribu malaikat sekali tawaf), serta setiap batu-batu dan tanah akan mendoakan supaya Allah mengampuni dosa-dosa orang yang mengerjakan sembahyang tarawih pada malam ini.

· Malam Ketujuh: Seolah-olah dia dapat bertemu serta menolong Nabi Musa A.S. menentang musuh ketatnya Firaun dan Haman.

· Malam Kelapan: Allah mengurniakan pahala orang sembahyang tarawih sepertimana yang telah dikurniakan kepada Nabi Ibrahim A.S.

· Malam kesembilan: Allah kurniakan pahala dan dinaikkan mutu ibadat hambanya seperti Nabi Muhammad S.A.W..

· Dan kelebihan-kelebihan seterusnya sehingga sampai kemalam yang ke-tiga puluh

Namun begitu setelah diajukan pertanyaan kepada beberapa tokoh agama tanahair tentang kedudukan hadis ini, dari manakah ianya diambil, semuanya tidak dapat memberikan penjelasan. Dan setelah diteliti dalam kitab induk hadis seperti Sunan Sittah dan lain-lain kitab hadis lagi, ianya tidak ditemui. Begitu juga dalam kitab-kitab hadis palsu (maudhu`aat) sendiri pun tidak didapati hadis ini. Ini menunjukkan bahawa hadis ini merupakan satu hadis yang baru diada-adakan sehingga ulama-ulama hadis dahulu yang menulis tentang hadis maudhu` pun tidak mengetahui akan wujudnya hadis ini.

Kita tidak menafikan kelebihan sembahyang tarawih dan kedudukannya didalam sunnah. Namun begitu kita tidak mahu umat Islam tertipu dengan berbagai-bagai janji palsu yang menyebabkan umat Islam mengerjakan amalan-amalan kebaikan dengan mengharapkan sesuatu yang sebenarnya tidak akan diperolehinya. Dengan tersebarnya hadis-hadis palsu seumpama ini juga akan mencemarkan kesucian hadis Rasulullah s.a.w. yang dipelihara dengan dengan begitu baik oleh ulama-ulama kita dahulu.

Rasulullah S.A.W. telah pun memberikan amaran terhadap orang-orang yang mengadakan pendustaan atas namanya dengan ancaman yang berat sebagaimana sabdanya : Barang siapa sengaja mengadakan dusta atas namaku maka hendaklah dia menyediakan tempatnya dalam neraka. (Bukhori, Muslim)

Hadis ini diriwayatkan dengan banyak sekali sehingga sampai keperingkat Mutawatir. Ancaman ini merangkumi segala jenis pendustaan keatas Nabi S.A.W. sama ada dengan maksud memberi galakan supaya rajin beramal ibadat ataupun ancaman supaya menjauhi segala larangan Allah (targhib dan tarhib).

Mulla Ali Qari dalam Al-Asrarul-Marfu'ah selepas membawakan lebih dari seratus riwayat hadis tentang pendustaan atas nama Nabi Muhammad S.A.W. menukilkan kata-kata Imam Nawawi dalam syarah Muslim. Kata Imam Nawawi: Haram meriwayatkan sesuatu hadis palsu (maudhu`) bagi orang yang mengetahui bahawa hadis itu maudhu` atau dia hanya menyangka hadis ini maudhu`. Siapa yang menceritakan hadis yang dia tahu atau dia sangka bahawa ianya maudhu` serta dia tidak menerangkan keadaannya maka dia termasuk dalam ancaman ini. Katanya lagi, tidak ada perbezaan dalam pengharaman pendustaan atas Nabi Muhammad S.A.W. di

antara hadis tentang hukum-hukum dan hadis yang bukan berkenaan dengan hukum seperti hadis yang mengandungi dorongan serta galakan beramal ibadat, hadis-hadis nasihat dan lain-lain. Semuanya haram termasuk dalam sebesar-besar dosa dan sejelek-jelek perkara dengan ijmak ulamak Islam… seterusnya dia berkata: Ulama-ulama telah pun sepakat tentang haram berdusta atas nama orang-orang biasa. Bagaimana pula dengan orang yang kata-katanya adalah syariat, kalamnya adalah wahyu dan berdusta atasnya adalah pendustaan atas Allah juga. Fiman Allah bermaksud: Tidaklah dia mengucapkan mengikut kemahuan hawa nafsunya. Apa yang diucapkan tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. (An-Najm: 3-4).

Di dalam hadis tersebut nampaknya ada galakan supaya umat Islam rajin untuk melakukan amalan terawih dalam bulan Ramadhan seperti mana kita sering dapati hadis ancaman terhadap orang yang meninggalkan sembahyang yang mana sebenarnya hadis itu pun telah di reka atas nama nabi Muhammad S.A.W. seperti contoh satu hadis yang sebahagian darinya berbunyi: Jika seseorang itu meninggalkan sembahyang zohor dosanya adalah seperti dia berzina dengan ibunya sendiri.Jika dia meninggalkan sembahyang sembahyang asar dosanya adalah seperti meruntuhkan kaa'bah..

Adakah tidak cukup dengan janji ganjaran dari Allah bagi orang yang menghidupkan malam Ramadhan yang terdapat dalam kitab hadis shahih contohnya hadis yang bermaksud: Sesiapa yang menghidupkan malam ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran dari Allah diampunkan dosa-dosanya yang lalu. (Al-Bukhari)

Dan adakah tidak cukup dengan ancaman terhadap orang yang meninggalkan sembahyang yang terdapat dalam al-Quran antaranya firman Allah yang bermaksud: Apakah yang menyebabkan kamu dimasukkan kedalam neraka saqar? Mereka menjawab: Kami dahulu termasuk orang yang tidak mengerjakan sembahyang. (Al-Muddatsir)

Sebenarnya bagi mereka yang suka menghidupkan malam Ramadhan tidak mesti dengan adanya hadis rekaan yang seperti ini mereka akan bersungguh-sungguh dalam menghidupkan amalan tarawih ini. Dan orang yang malas bersembahyang bawalah hadis yang bagaimana teruk sekalipun siksaannya namun mereka tetap tidak mahu mengerjakannya.

Diantara ciri-ciri hadis maudhu` (rekaan) dari segi zahirnya selain dari meneliti sanad perawinya ialah

1. Kelebihan yang disebutkan menyamai atau mengatasi kelebihan yang terdapat pada para sahabat nabi kita Muhammad S.A.W. atau orang yang berjuang bersama dengan nabi-nabi yang lain apatah lagi untuk menyamai atau mengatasi kedudukan nabi-nabi kerana umat yang datang kemudian walaupun setinggi-tinggi wali sekalipun tidak akan dapat mengatasi atau menyamai kedudukan sekecil-kecil sahabat apatah lagi untuk menyamai kedudukan seorang nabi.

2. Kelebihan yang terdapat didalamnya tidak sepadan dengan amalan yang dilakukan dimana ia menyalahi apa yang terdapat dalam syariat sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis shohih.

3. Kandungannya serta ertinya rapuh, tidak menyerupai kalam Nabi Muhammad s.a.w. dan lafaznya tidak sesuai keluar dari mulut Nabi sepertimana yang terdapat dalam hadis-hadis shohih.

4. Didalam setengah risalah yang terdapat hadis ini, ianya dimulai dengan "Ya Ali" sedangkan ulama-ulama hadis telah mengatakan bahawa hadis-hadis yang dimulai dengan kata-kata ini hanya dua atau tiga sahaja yang shohih.Yang lainnya adalah palsu.

Oleh itu umat Islam sekalian terutamanya pihak-pihak berkenaan seperti institusi-institusi agama diperingkat negeri dan pusat sepatutnya prihatin terhadap perkara seperti ini demi menjaga kesucian hadis Rasul yang menjadi pegangan kedua Ahlus Sunnah Wal Jamaah.Umat Islam janganlah mudah tertipu dengan diayah-diayah palsu yang dikaitkan dengan Rasulullah sedangkan ianya tidak ada hubungan langsung dengan Rasulullah s.a.w. Janganlah sampai masyarakat kita melakukan sesuatu amalan dengan harapan akan mendapat pahala sedangkan sebaliknya dosa besar pula yang diperolehi dengan menyebarkan dan seterusnya beramal dengan hadis-hadis palsu seperti ini.


PENJELASAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH AQIDAH YANG SHOHIH.
Assalamulaikum,
Alhamdulillah, di sini saya sertakan penerangan yang jelas dan lengkap tentang Ahlus Sunah Wal Jama’ah.Maklumat ini dikumpulkan daripada kitab-kitab para Ulama’ ASWJ.
Semoga kita semua kekal dalam Aqidah ASWJ yang shohih dan bukan seperti yang dicanang oleh sesetengah golongan ajaran sesat.
AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT (al Firqah an-Najiyah)
Bersabda Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW, maknanya:“dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)
Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan adalah taufiq (pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal, mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran- ketika membantah raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau menundukkan mereka dengan dalil akal. Fungsi akal dalam agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagai peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeza dengan golongan falsafah yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal lainnya yang hanya berdasarkan penilaian akal semata-mata. Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang ajaran yang dibawa para nabi dan rasul.
Tuduhan kaum Musyabbihah dan Mujassimah iaitu kaum yang sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang hanya mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh al-Mu’tazilah (anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan kerana menggunakan akal sebagai salah satu sumber utama, adalah tuduhan yang amat salah. Ini tidak ubah seperti kata pepatah arab “Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek adalah senjata para pengecut). Secara ringkas tetapi namun padat, kita ketengahkan pembahasan tentang Ahlussunnah sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistemnya.
PENGENALAN DAN KRONOLOGI SEJARAH
Sejarah mencatat bahawa di kalangan umat Islam bermula dari abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sehinggalah sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang saling bertentangan di antara satu sama lain. Ini fakta yang tidak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan jelas Rasulullah telah menjelaskan bahawa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan. Semua ini sudah tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita ikuti dan panuti agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Iaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; majoriti umat Islam. Karena Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad, bahawa umatnya tidak akan tersesat selama mana mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyimpang dan memisahkan diri dari keyakinan majoriti.
Majoriti umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul al-I’tiqad (dasar-dasar aqidah); iaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadith Jibril uang bermaksud : “Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk”. (H.R. al Bukhari dan Muslim)
Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai majoriti umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya yang bermaksud: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian mengikuti orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah mereka“. Dan termasuk rangkaian hadith ini: “Tetaplah bersama al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di syurga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”. (H.R. at-Tirmidzi; berkata hadith ini Hasan Shahih juga hadith ini dishahihkan oleh al-Hakim).
Al-Jama’ah dalam hadith ini tidak boleh diertikan dengan orang yang selalu melaksanakan solat dengan berjama’ah, jama’ah masjid tertentu. Konteks pembicaraan hadith ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah majoriti umat Muhammad dari sisi jumlah(‘adad). Penafsiran ini diperkuatkan juga oleh hadith yang dinyatakan di awal pembahasan. Iaitu hadith riwayat Abu Daud yang merupakan hadith Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat. Hadith ini memberi kesaksian akan kebenaran majoriti umat Muhammad bukan kesesatan firqah-firqah yang menyimpang. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyimpang ini, jika dibandingkan dengan pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah sangatlah sedikit. Seterusnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah terdapat istilah yang popular iaitu “ulama salaf”. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi yang maknanya: “Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)
Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mula tercetus bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lain-lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat fahaman atau mazhab baru. Kemudian muncullah dua imam muktabar pembela Aqidah Ahlussunnah iaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridhai keduanya–menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nas-nas al-Quran dan Hadith) dan dalil-dalil aqli (argumentasi rasional) disertaikan dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) golongan Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij dan ahli bid’ah lainnya.
Disebabkan inilah Ahlussunnah dinisbahkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenali dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut Imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini menunjukkan bahawa mereka adalah satu golongan iaitu al-Jama’ah. Kerana sebenarnya jalan yang ditempuhi oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu. Adapun perbezaan yang terjadi di antara keduanya hanyalah pada sebahagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling berhujah dan berdebat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya terlepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbezaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti perselisihan yang terjadi di antara para sahabat nabi, tentang adakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj? Sebahagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahawa Rasulullah tidak melihat Tuhannya ketika Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahawa Rasulullah melihat Allah dengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad atau membuka hijab sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap bersama atau bersefahaman dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafiz Murtadha az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (Al-Ithaf Syarah li Ihya Ulumuddin, juz 2 hlm 6)
Maka aqidah yang sebenar dan diyakini oleh para ulama salaf yang soleh adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Kerana sebenarnya keduanya hanyalah merumuskan serta membuat ringkasan yang mudah (method) dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).
Aqidah ini diajarkan di pondok-pondok Ahlussunnah di negara kita Malaysia,Indonesia,Thailand dan lain-lainnya.Dan Alhamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia seperti Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syria, Jordan, Lubnan dan Palestin), Maghribi,Yaman, Iraq, Turki, Chechnya, Afghanistan dan banyak lagi di negara-negara lainnya.
Maka wajib bagi kita untuk sentiasa memberi penuh perhatian dan serius dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang merupakan aqidah golongan majoriti. Kerana ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh al-Akbar. Kerana mempelajari ilmu ini wajib diutamakan dari mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Setelah selesai atau khatam mempelajari ilmu ini barulah disusuli dengan ilmu-ilmu Islam yang lain. Inilah method yang diikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini. Tradisi ini telah bermula dari zaman Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Umar dan Jundub, maknanya: “Kami ketika remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah keimanan kami”. (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).
Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal ini kerana ramainya golongan yang menyalahgunakan nama Islam namun menentang aqidah Islam yang sebenar dan banyaknya kalam (argumentasi) dari setiap golongan untukmembela aqidah mereka yang sesat. Tidak semua ilmu kalam itu tercela, sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi ilmu kalam terbahagi menjadi dua bahagian ; ilmu kalam yang terpuji dan ilmukalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua inilah yang menyalahi aqidah Islam kerana dikarang dan dipelopori oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya. Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang sesat. Dikatakan terpuji kerana pada hakikatnya ilmu kalam Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah dalam formatnya yang sistematik dan argumentatif; dilengkapi dengan dalil-dalil naqli dan aqli. Dasar-dasar ilmu kalam ini telah wujud di kalangan para sahabat. Di antaranya, Imam Ali ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kukuh dapat mengalahkan golongan Khawarij, Mu’tazilah dan juga dapat membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jisim (benda). Demikian pula Abdullah ibn Abbas, Al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dan Abdullah ibn Umar juga membantah kaum Mu’tazilah. Sementara dari kalangan tabi’in; Imam al-Hasan al-Bashri, Imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-Hanafiyyah; cucu Saidina Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu’tazilah. Kemudian juga para imam dari empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad juga menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana dinukilkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H) dalam kitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam kitab Tabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al-Masami’ dan al ‘Allamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat al-Maram dan lain-lain. Allah berfirman yang bermaksud: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu”. (Muhammad :19) Ayat ini sangat jelas mengisyaratkan keutamaan ilmu ushul atau tauhid. Yaitu dengan menyebut kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada perintah untuk beristighfar yang merupakan furu’ (cabang) agama. Ketika Rasulullah ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliau Menjawab,maknanya: “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. (H.R. Bukhari) Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah mengkhususkan dirinya sebagai orang yang paling mengerti dan faham ilmu tauhid, beliau bersabda,maknanya: “Akulah yang paling mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-Nya”. (H.R. Bukhari)
Kerana itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ini. Seperti Risalah al-’Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al‘Aqidah an-Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H), al-‘Aqidah al-Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn ‘Asakir (W 630 H), al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H).
Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal dengan nama al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah. Sultan Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan al ‘Aqidah as-Sunniyyah dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung. Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah. Amin.
PANDANGAN JUMHUR ULAMA TENTANG AQIDAH ASY’ARIYYAH; AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: “Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan nama kepadanya kerana beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf, hujjah (argumentasi) yang beliau gunakan sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, kerananya para pengikutnya kemudian disebut Asy’ariyyah. Abu al-Hasan al-Asy’ari bukanlah ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih terang, jelas dan sistematis demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari”.
Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa “kelompok yang benar adalah kelompok Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para sahabat dan tabi’in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri. Dan Alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita. Kemudian beliau melantunkan satu bait sya’ir:
وكن أشعريا في اعتقادك إنه هو المنهل الصافي عن الزيغ والكفر “Jadilah pengikut al Asy’ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yangbersih dari kesesatan dan kekufuran”.
Ibnu ‘Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar : “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah al Asya’irah dan al Maturidiyyah”. Dalam kitab ‘Uqud al Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan : “Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyyah Hasyimiyyah Syar’iyyah sebagaimana Aqidah para ulama madzhab syafi’i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah”. Bahkan jauh sebelum mereka ini Al-Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahawa aqidah al Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al-Hanabilah). Apa yang dikemukakan oleh al ‘Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.
GARIS PANDUAN AQIDAH ASY’ARIYYAH
Secara garis besar aqidah asy’ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnah wal jama’ah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda yang boleh digambarkan, dan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai’). Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagi kewujudan-Nya, Allah maha kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Allah tidak diliputi arah. Allah ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Allah wujud setelah menciptakan tempat dan tanpa bertempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya bila, dimana dan bagaimana ada-Nya. Allah ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil. Allah tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Allah tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya. Allah tidak terjangkau oleh fikiran dan tidak terbayang dalam ingatan, kerana apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu. Allah maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa, maha mendengar dan maha melihat. Allah berbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga azali, kerana Allah berbeza dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh dia telah kafir. Allah yang telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Alah juga yang menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada yang boleh menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang boleh menghalangi pemberian-Nya. Allah berbuat dalam kerajaan-Nya ini apa yang Allah kehendaki. Allah tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta dipertanggungjawakan atas segala perbuatan-Nya. Apa yang Allah kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Allah bersifat dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Allah maha suci dari segala bentuk kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Nabi Muhammad diutuskan oleh Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun manusia. Nabi Muhammad jujur dalam setiap apa yang disampaikannya.
sumber dipetik dari : http://bankwahabi.wordpress.com/2007/10/07/penjelasan-ahlus-sunnah-wal-jamaah-aqidah-yang-shohih/


                                                         Perbezaan Golongan Khalaf dan Salaf
GOLONGAN KHALAF
1. Khalaf merujuk umat Islam selepas tamatnya generasi Salaf-as-Soleh (4 generasi terawal yang terbaik umat selepas wafatnya Rasulullah, iaitu bermula era sahabah). Dan secara umumnya di Malaysia kita dibesarkan dalam sistem agama khalaf, iaitu yang diikuti majoriti umat Islam Melayu sekarang dan juga yang terdapat dalam sistem pendidikan agama kebangsaan mahupun negeri (pondok, madrasah, SMKA, Sekolah Agama Rakyat, dll). Khalaf di Malaysia juga kadangkala dipanggil ‘Kaum Tua’, kerana mengikut sistem konservatif (yang lama sejak berzaman dahulu yang rangkaian ilmunya selama +1000 tahun bersambung daripada zaman Salaf-as-Soleh).

2. Sistem agama Khalaf merujuk kepada kaedah fiqh (fekah) 4 mazhab utama iaitu Mazhab Syafie (Malaysia), Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali. Mazhab Syafie diasaskan oleh Imam Syafie tetapi kemudian dikembangkan, diperkemas dan disambung oleh ramai ulama’ bermazhab Syafie’ terkemudian seperti Imam Nawawi, Imam ar-Ramli dan lain-lain lagi. Begitu juga dengan mazhab lain dengan pakar fiqh masing-masing. Kesemua pengasas 4 mazhab utama ini juga tergolong dalam generasi Salaf-as-Soleh.

3. Golongan Khalaf beraqidah dengan kaedah Imam Ash’ari (Ash’ariah) atau kaedah Imam Maturidi (Maturidiah). Perbezaan kaedah aqidah antara kedua-dua imam ini hanyalah kecil dan tidak bercanggah satu sama lain. Di Malaysia aqidah Islam yang digunakan ialah Ash’ariah.

4. Tasawwuf (sufi / tareqat). Adapun saya tidak begitu pakar dan tidak mendalami isu ini. Secara umum, golongan Khalaf menerima tawassuf sebagai satu cabang ilmu dalam agama.

5. Golongan Khalaf terpaksa menghadapi kemunculan golongan Salaf sejak beberapa dekad lalu. Pendekatan pihak Khalaf berbeza-beza dalam berinteraksi dengan Salaf. Ada yang kuat menolaknya, ada yang berlapang dada dan ada yang menerima dakwah Salaf.

GOLONGAN SALAFI
1. Gerakan Salafi atau Salafiyyah ataupun yang dilabelkan sebagai ‘Wahhabi’ atau ‘Kaum Muda’, adalah mereka yang baru muncul di Malaysia (mungkin sejak tahun +1900 masehi), yang mengajak umat Islam kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah (AQS), dan agar mencontohi golongan Salaf-as-Soleh dalam beragama.

2. Gerakan Salafi seringkali memintas kaedah Khalaf dan terus merujuk kepada Salaf-as-Soleh. Antara kaedah masyhur Salafi ialah isu agama mestilah berdasarkan kepada dalil dan hujjah AQS, dan bukan semata-mata sangkaan atau ikutan membuta (taqlid buta).

3. Gerakan Salafi berkembang dan berpusat di Arab Saudi sejak 200-300 tahun dahulu, dan dakwahnya sampai ke Malaysia melalui graduan agama kita yang belajar di negara-negara Arab atau sekitarnya dan kemudian kembali ke Malaysia.

4. Kaedah aqidah Salafi merujuk kepada pecahan 3 tauhid iaitu Tauhid Rubbubiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Asma’ wa Sifat. Walaupun sebenarnya ada kesamaan aqidah Khalaf & Salaf, tetapi Salafi tidak bersetuju dengan aqidah Imam Ash’ari dan Imam Maturidi yang mereka anggap terpesong daripada aqidah ahli sunnah wal jamaah atau Salaf-as-Soleh.

5. Manakala fiqh Salafi agak berbeza di dalam Malaysia dan luar Malaysia. Di Malaysia biasanya fiqh Salafi merujuk kepada fiqh Imam Syafie sendiri (yang asal) dan kurang gemar mengambil fiqh ulama’ mutakhir dalam mazhab Syafie yang dianggap kurang tepat. Salafi Malaysia tidak menolak mazhab mahupun menolak fiqh 4 mazhab utama, tetapi pendekatan Salafi ialah mengambil fiqh daripada 4 mazhab utama dan memilih pendapat yang terkuat. Adapun terdapat golongan Salafi ‘mentah’ yang tanpa memahami kaedah fiqh atau berkelayakan dan terus membuat hukum serta fatwa sendiri berdasarkan hanya beberapa kitab fiqh dan al-Qur’an.

6. Fiqh dan aqidah Salafi juga banyak merujuk kepada Ibn Taimiyyah (Hanbali) dan anak muridnya Ibn Qayyim, aqidah Muhammad bin Abdul Wahhab serta ulama’ Salafi moden seperti Syeikh Nasiruddin al-Albani, Syeikh Abdullah Bin Baz, Syeikh Muhammad Uthaimin dan Syeikh Saleh al-Fauzan.

7. Ada Salafi yang menolak terus ilmu tasawwuf (sufi/tareqat), tetapi ada juga yang menerima ‘sufism’. Salafi yang menerima ilmu sufi mengambil pendekatan amat berhati-hati dengan tareqat kerana berpendapat banyak tareqat yang tidak selari dengan Islam walaupun mereka juga akui ada tareqat yang betul.

8. Sebilangan Salafi juga amat aktif membid’ahkan banyak amalan pihak Khalaf. Hal ini berdasarkan tafsiran, keputusan dan kaedah yang berbeza yang digunakan Salafi berbanding Khalaf. Tetapi ada juga Salafi yang sederhana yang memahami perkara furu’ (ranting) telah berlaku dan selesai lama dahulu dan tidak berselisih mengenainya.

Perintah Menjauhi Taqlid
Oleh : Ustaz Emran Ahmad


Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah, selawat dan salam buat rasulnya Muhammad Salallahualaihiwasalam.
 Sesungguhnya menjadi satu kewajipan bagi setiap yang mengaku beriman kepada Allah dan rasul supaya mengikuti pertunjuk As-Sunnah dan meningalkan setiap yang bertentangan dengannya.

Sesungguhnya Perintah Menjauhi Taqlid amat jelas disebut oleh Allah swt dalam Al-Quran

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيسَ لَكَ بِهِ عِلْمُ إِنَّ السَّمْعَ وَالبَصَرَ وَالفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسئُولاً" (لأسرا: 36   

"Dan janganlah kamu mengikut sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana Sesungguhnya pendengaran kamu, penglihatan kamu dan hati kamu semuanya akan ditanya dan dipersoalkan." (Surah Al-Isra : 36).

Gejala taqlid amat berleluasa di kalangan masyarakat Melayu Malaysia sehingga ramai yang bertaqlid dan beramal dengan Islam hanya berdasarkan ikutan dan kepercayaan yang didengarnya tanpa mengetahui sebarang dalil mahupun hujah. Ramai orang hanya mendengar agama dari para ustaz dan golongan agama dan menerima bulat-bulat apa yang disampaikan tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu isinya adakah bertepatan dengan pertunjuk dari Allah mahupun rasul atau sebaliknya.

Masyarakat Awam sanggup mengenepikan hukum hakam yang diistinbat dari Al-Quran mahu pun dari As-Sunnah sahihah semata-mata untuk menuruti mazhab, taqlid mereka pada imam,ulama', tok guru mahu pun ustaz atau individu tertentu yang tidaklah maksum . Sedang hal ini ditentang dan dikhabarkan dalam Al-
Quran :
 
 اِتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيكُمْ مِن رَّبِكُم وَلاَ تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَولِياَءَ قَلِيلاً مَا تَذْكُرُونَ " (الأعراف: 3

" Dan ikutlah apa yang diturunkan oleh tuhan kamu (Allah) dan janganlah kamu mengikuti pemimpin (panduan/ imam / mazhab) selain dari-Nya kerana sedikitlah manfaat yang kamu perolehi.." (Surah Al-A'raf : 3). 
 
Lebih malang para ustaz dan golongan agama yang menjadi sumber taqlid masyarakat awam mereka sendiri juga tidak terlepas dari taqlid bahkan merekalah punca taqlid dengan mengikuti guru-guru mereka tanpa selidik dan bertaqlid pada sesetengah kitab tanpa meneliti dan mentahqiq, disamping menjadi agen kepada penyebar dusta, bohong dan kepercayaan karut yang dianggap benar dan dianggap sebagai ilmu oleh masyarakat lantaran kejahilan dan kerana dusta itu diucapkan dari mulut seorang tokoh agama yang dihormati dan terkenal. 

Sungguh perbuatan ini amatlah tercela dan bertentangan dengan agama Islam yang suci. Mereka para ustaz dan golongan agama sungguh telah melakukan jenayah besar terhadap Islam sehingga menjadikan Islam agama yang penuh penipuan, pendustaan dan ibadah yang didirikan penuh dengan bid'ah dan penyelewengan dari kitab dan as-sunnah.

Jelaslah perbuatan mereka menyerupai perbuatan rahib-rahib yahudi yang mengada-adakan pelbagai hukum berdasarkan akal mereka kemudian mendakwa ianya dari ayat Allah swt dan perbuatan masyarakat awam Melayu benar-benar seperti golongan awam nasrani dan yahudi yang mengambil paderi-paderi dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain dari Allah swt seperti yang difirmankan dalam Al-Quran : 
 
 اِتَّخِذُوْا أَحْبَارَهُم وَرُهْبَا نَهُم أَرْبَابًا مِن دُونِ اللََّهِ " (التوبة: 31)

" Mereka menjadikan para ulama' dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain dari Allah " (Surah At-Taubah : 31). Maka apabila ayat ini dibacakan oleh Rasulullah Salallahualaihiwasalam kebetulan Adi' bin Hatim ra (bekas yahudi) mendengarnya lantas beliau menegur Rasulullah Salallahualaihiwasalam dengan
mengatakan bahawa tidaklah mereka (orang yahudi) menjadikan rahib-rahib dan orang alim mereka sebagai tuhan (yakni tidaklah sampai menyembah).

Maka jawab baginda Rasul
 Salallahualaihiwasalam :

إنهم إذا أحلوا لهم شيئا استحلوا وإذا حرموا عليهم شيئا حرموا فذلك عبادتهم 

" Mereka (para rahib) jika menghalalkan sesuatu maka orang ramai pun ikut menghalalkannya (yakni mengikutinya/mentaqlidnya) dan mereka jika mengharamkan sesuatu maka orang ramai pun ikut mengharamkannya maka itulah pengibadatan mereka (itulah bukti mereka menyembah para rahib).[1]

Sungguh perbuatan taqlid dan menuruti seseorang tanpa ilmu amatlah dicela dan dikeji oleh agama Islam yang mulia.

Taqlid dari sudut bahasa
 bermaksud : Meletakkan sesuatu ikatan di tengkuk (Rujuk Al-Misbahul Munir (704 / 2), Air yang bertakung sama ada dalam perigi atau bekas . [2]

Dari sudut takrifan fuqaha, Taqlid
 bermaksud : Menerima perkataan atau pendapat seseorang tanpa berdasarkan hujah. [3] Manakala mengikut atau menuruti Al-Quran dan Hadith maka ia tidaklah dinamakan taqlid kerana Al-Quran dan Sunnah itu sendiri ialah hujah dan jika menurut pendapat imam, ulama' dengan mengetahui hujah apa yang digunakan oleh para imam dan ulama' tersebut maka ia tidaklah menjadi taqlid sebaliknya menjadi Ittiba' (Mengikut berdasar dalil, yakni menerima dan mengikuti sesuatu pendapat, ijtihad seseorang ulama' setelah kita mengetahui dalil-dalil yang digunakannya ).[4] 

Ittiba tidaklah dicela bahkan diperintahkan pada golongan awam yang jahil dan tidak mempunyai kemampuan berijtihad lantaran kelemahan dari sudut ilmu, kemampuan akal atau memiliki kekurangan tertentu. Sebagaimana yang terdapat pada firman Allah swt dalam al-quran yang mengunakan istilah " Ittiba' :

 اِتَّبِعُوْا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُم مِن َّربِكُم " (الأعراف: 3 

" Dan ikutlah apa yang diturunkan oleh tuhan kamu (Allah)"(Surah Al-A'raf:3)

Kemudiannya diperintahkan pula bagi mereka yang jahil dan tidak mengetahui supaya berittiba' kepada golongan yang alim dan mengambil pelajaran dari mereka. 

 فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُم لاَ تَعلَمُونَ" (النحل: 43 

" Bertanyalah kamu kepada orang yang mengerti jika kamu tidak mengetahui" (Surah An-Nahl : 43). (Untuk pemahaman lebih mendalam boleh merujuk Tafsir Ibn Katsir bagi ayat ini).
Para Ulama' telah bersepakat mengatakan hukum taqlid ialah haram, melainkan menurut pendapat imam atau mazhab dengan mengetahui hujah dan dalil yang dinamakan
 Ittiba' . Sedang taqlid tanpa dalil sekadar taqlid buta ialah haram dan kedudukannya terbahagi kepada beberapa keadaan.
1) Taqlid pada perkara aqidah maka hukumnya haram dan ditegah oleh para ulama'.
2) Taqlid pada perkara feqah dan
 ibadah :
-Taqlid pada mazhab atau imam dan apa yang ditaqlidnya itu benar
-Taqlid pada mazhab dan imam dan apa yang ditaqlidnya itu salah  
Para
 ulama' mengatakan baik benar apa yang ditaqlid mahupun salah maka dia tetap berdosa dan jika apa yang ditaqlidnya itu salah maka dosanya lebih besar.
Membicarakan soal taqlid pasti mencetuskan kemarahan golongan tua yang sudah berkarat pemikiran mereka tentang hal taqlid dan enggan menerima perubahan. Mereka kerap menuduh golongan ulama' yang ingin membawa ummah kepada tajdid dan pembaharuan dari kejahilan kepada keilmuan sebagai satu usaha merbahaya dan sebagai satu usaha mengancam tradisi yang sekian lama dipegang oleh mereka.
Mereka (golongan tua) yang terdiri dari tok-tok guru pondok, para ustaz pencen dan ahli agama yang sealiran dengannya kerap menuduh para pelajar hadith, para
ulama' yang benar-benar alim dan gigih mempertahankan sunnah Nabi Salalallahualaihiwasalam sebagai "Wahabbi" atau " Kaum Muda" dan pelbagai lagi tuduhan yang tidak berasas dan langsung tiada nilai dari sudut ilmiah dan hujah di sisi Allah swt. Mereka hanya tahu menyesatkan golongan ini tanpa mampu menampilkan hujah dan dalil walau sepatah pun dengan kaedah ilmiah.
Mereka menuduh para ulama' dan golongan hadith yang
 cuba membersihkan Aqidah masyarakat yang penuh dengan kesesatan dan penyelewengan dari manhaj Ahlul Sunnah Wal-Jamaah sebagai zindiq (Sepertimana mereka (aliran pondok Melayu di Malaysia) menuduh para ulama' seperti Imam Ibn taimiyyah , Ibn Qayyim dan lain-lain sebagai Zindiq).
Mereka juga menuduh para golongan ulama' hadith yang cuba membersihkan ibadah masyarakat dari bid'ah dan dibina atas dasar jahil, taqlid kepada ilmu (Sepertimana mereka (pelajar-pelajar Al-Azhar ) menuduh Syeikh Alamah Albani ra, Syeikh Ibn Baz, Syeikh Soleh Utsaimin dll ) sebagai sesat dan Wahabbi .
Apakah itu
 Wahabbi ? Apakah itu Zindiq ? Apakah punca mereka dituduh sedemikian ? Demi Allah sehingga kalam ini ditulis tidaklah seorang pun pelajar Al-Azhar As-Syarif atau ulama' pondok , atau ustaz kampung atau mana-mana tokoh aliran taqlid dan jahil itu dapat menjawabnya !!!
Manakala golongan awam yang mengambil pemikiran golongan ini pun tanpa memikir panjang terus menerus membuat mungkar pada agama ini dengan menyebarkan dusta bohong serta penghinaan pada para ulama' yang banyak jasanya pada umat Islam.
Sedang para ulama' tersebut andainya mereka tersilap sekalipun kesilapan mereka bukanlah disengajakan bahkan mereka beroleh pahala atas ijtihad yang dilakukan dengan keilmuan mereka dan jauh dari sikap taqlid sebagaimana sabda Rasulullah
 Salallahulaihiwasalam : 

إذا حكم الحاكم فاجتهدا ثم أصاب فله أجران وإذا حكم فاجتهد ثم اخطأ فله اجر  

" Jika seorang qadhi itu berhukum lalu berijtihad maka jika ijtihadnya itu benar maka baginya dua pahala dan jika salah maka baginya satu pahala.[5] 
Ada pun golongan jahil yang memburukkan para ulama' ini apalah yang mereka perolehi ? Tidak lain hanyalah semata dosa dan murka Allah swt..
Malahan jika menurut riwayat, Imam Abu Yusof dan Imam Muhammad Bin Hasan sendiri berfatwa dan berijtihad menyalahi pendapat Imam Abu Hanifah lebih dari 1/3 dari seluruh isi mazhab Abu Hanifah walaupun mereka merupakan murid kepada Imam Abu Hanifah. Sesungguhnya tujuan tajuk ini ditulis bukanlah bertujuan memburukkan sesiapa pun sebaliknya memberikan peringatan kepada masyarakat supaya kembali kepada Allah dan
 sunnah rasulnya dan memahami Islam dengan kaedah dan cara yang benar.  

 وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ المُؤْمِنِينَ " (الذريات :55) 

" Dan berilah peringatan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat pada orang-orang yang beriman" (Surah Adz-Zariyat : 55).

Sangatlah disedihkan kepada golongan awam yang menjadi mangsa kejahilan, kedunguan para ustaz, golongan agama yang masih tetap dengan taqlid dan ajaran lama serta kitab kuning mereka. Golongan awam ini akhirnya terzalim dan mereka secara tidak langsung turut terlibat dalam kejahilan lantaran kecuaian orang-orang agama yang sepatutnya menjadi pelita dan menerangi ummat dari kegelapan yang akhirnya menjadi sebahagian dari kegelapan itu sendiri.

Ketika risalah ini ditulis, penulis mendapat berita ajaran
 sufi (satu puak yang jauh menyimpang dari ajaran Ahlul Sunnah Wal-Jamaah-InsyaAllah akan menyusul tajuk mengupas kebathilan mereka ini pada Kitab Aqidah) sedang merebak di Malaysia dengan pesat.

Kemasukan
 sufi di tanahair Malaysia bermakna akan menyebarlah ajaran sesat, tariqah bathil yang mendakwa membawa manusia kepada Allah dengan jalan yang langsung tidak pernah dilalui oleh para Salaf soleh (Sahabat ra, tabi'ien, tabi' tabi'ien).Malah ajaran ini sudah cukup menyebar di Al-Azhar sehingga para pelajarnya pun siang malam belajar zikir-zikir yang pelik dan berangan-angan menjadi wali-wali dan menuruti jalan sufi. Pernah penulis terbaca sendiri laman web mereka yang menulis dan mengajak orang ramai menuruti jalan para ahlul sufi seperti Rabiatul Adawiyah , Abdul Qadir Al-Jilani dll.

Sungguh sangat jauh mereka ini dari nikmat
 sunnah rasul dan nikmat pedoman para salaf soleh yang terlebih dahulu mengenal Islam dan diberi hidayah oleh Allah swt.
Apakah mereka sudah lupa betapa Allah swt memerintahkan supaya setiap perkara harus dirujuk kepada dalil dan pertunjuk dari-
Nya ? 

"قُلْ إِن كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُوْرٌ رَّحِيمٌ" 

" Katakanlah; jika kamu benar-benar cintakan Allah maka ikutlah aku (rasul) maka Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa kamu dan sesungguhnya Allah Maha Pengasih " (Ali Imran -31).
Sangatlah memelikkan bagaimana mereka boleh meninggalkan para imam, para ulama' dan menuruti
 sufi bodoh yang langsung entah benar dan entah betul serta tidak maksum dan jahil agama. Bahkan pernah sampai kepada kita satu riwayat dari Imam Ahmad seperti dalam riwayat Imam Abi Faraz Abd Rahman ibn Jauzi Al-Bagdadi (sama seperti riwayat sebelumnya cuma wujud perbezaan pada peribadi) mengenai seorang lelaki bertanya kepada Imam Ahmad ra bahawa Ibrahim ibn Adam (seorang Sufi ) telah berkata sekian dan sekian, maka dijawab oleh Imam Ahmad " Tetaplah kamu pada dalil" dan Tinggalkanlah kalam orang bodoh !!!. 
Bala yang dibawa oleh sufi dan ajaran karut dari cabang ilmunya ialah kisah-kisah wali dongeng, kisah palsu berkait sirah nabi dan para sahabat (yang kesemuanya dusta tanpa ada yang benar kecuali dusta !!!), disamping zikir-zikir dan ibadah karut yang tanpa sabit dari nas dalil dan juga bala perekaan hadith-hadith Maudhu' (palsu) yang bercambah dalam masyarakat.
Sedang baginda Salallahualaihiwasalam
 bersabda : 
اتقوا الحديث عنّي إلا ما علمتم 
" Berhati-hatilah kamu terhadap apa yang disampaikan dari aku melainkan kamu mengetahuinya (akan kebenarannya)".[6]
Sedikit kurang bahaya dari sufi (yang melibatkan soal aqidah) ialah perihal taqlid dalam masalah ibadah. Iaitu masalah peribadatan masyarakat Islam
 Malaysia dalam feqah yang semuanya mengaku bermazhab Syafie tapi langsung tiada dalil dan
hujah bahkan jauh menyimpang dari panduan para imam mazhab dan juga para ulama' salaf soleh.
Para golongan agama, ustaz-ustaz taqlid dan tok-tok guru pondok apabila kita mengajak mereka supaya menggunakan dalil dan kembali kepada feqah berdasar sunnah dan dalil maka mereka menuduh kita sebagai " Tidak bermazhab" dan sebagai sesat dan kononnya kita ini membenci imam-imam dan menuduh kononnya kita ini terkeluar dari mazhab yang empat sekaligus terkeluar dari Ahlul Sunnah Wal-Jamaah sedangkan perbuatan merekalah yang Demi Allah terkeluar dari manhaj Ahlul Sunnah Wal- Jamaah dan terkeluar dari sunnah nabi Salallahualaihiwasalam. 
Sedangkan jelas para imam mazhab sendiri menjelaskan dalam kenyataan mereka
 akan bencinya mereka pada taqlid dan tidak mengiktiraf wujudnya mazhab dan tidak mengiktiraf perlunya mazhab tertentu dan terikatnya seseorang pada mazhab.
Imam Abu Hanifah ra sendiri pernah
 menyebut : 
إذا صح الحديث فهو مذهبي 
"Jika sahih sesuatu hadith maka itulah mazhabku (peganganku)" [7] 
لا يحل لأ حد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه  
" Tidak halal bagi siapapun untuk memegang pendapat kami tanpa mengetahui dari mana dalil yang kami ambil" [8]

Begitu juga Imam Malik ra menyebut : 
ليس أحد بعد النبي صلي الله عليه وسلم إلا و يؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلي الله عليه وسلم 
"Tidak ada sesiapa pun selepas Nabi salallahualaihiwasalam melainkan kita boleh ambil dan boleh pula tinggalkan pendapatnya melainkan Nabi salallahualaihiwasalam" [9]

Imam Ahmad Ibn Hanbal ra juga turut
 menyebut : 
لا تقلدني , ولا تقلد مالكًا, ولا الشافعي , ولا الأوزاعي , ولا الثوري, وخذ من حيث أخذوا. 
" Janganlah kamu bertaqlid kepada aku, janganlah bertaqlid kepada Imam Malik, janganlah kamu bertaqlid kepada Imam Syafi'ie dan jangan kepada
Imam Al-Auza'ie dan jangan juga kepada Imam As-Sau'ri, tetapi ambillah hujah dari mana sumber yang mereka ambil…". [10]

Begitu jugalah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Syafi'ie
 ra :
Dan Imam Syafi'ie ra juga meyebut : 
إذا صح الحديث فهو مذهبي 
"Jika sahih sesuatu hadith maka itulah mazhabku (peganganku)" [11] 
أنتم أعلم بالحديث و الرجال مني, فإذا الحديث الصحيح فأعلموني به 
" Kamu lebih alim tentang hadith dan ilmu rijal dari aku (katanya kepada Imam Ahmad ibn Hanbal) maka jika sesuatu hadith itu sahih maka beritahulah aku tentangnya…".[12] 
كل حديث عن النبي صلي الله عليه فهو قولي , و إن لم تسمعوه مني 
" Setiap Hadith dari Nabi Salallahulaihiwasalam itulah sebenarnya pendapat aku cuma sahaja mungkin kamu tidak mendengarkannya dari aku." 
من قلد معينا في تحريم شيء أو تحليله وقد ثبت الحديث علي خلافه ومنعه التقليد عن العمل بالسنّة فقد اتخذ من قلّده ربّا من دون الله تعالي 
"Barangsiapa yang bertaqlid pada mengharamkan sesuatu atau menghalalkan sesuatu dan jelas taqlidnya itu berlawanan dengan hadith dan kerana taqlidnya itu menyebabkan dia dilarang atau menyekatnya dari beramal dengan sunnah maka sesungguhnya dia telah mengambil orang yang ditaqlidnya itu sebagai tuhan selain dari Allah swt ." [13]

فحديث نبي أولى فلا تقلدوني  
" Dan sesungguhnya hadith nabi itu lebih utama, dan janganlah bertaqlid padaku." [14]

Demikianlah para ulama' Ahlul Sunnah menyebut secara jelas dalam kalam mereka pada kitab-kitab mereka bagi melepaskan diri mereka dari dakwaan golongan yang
mengaku bertaqlid pada mereka dan menjadikan mereka sebagai kambing hitam bagi menempelkan kesalahan kejahilan dan setiap perbuatan bid'ah mereka pada imam-imam mazhab. 
Sungguh Allah menjadi saksi bahawa para imam mazhab jauh dan bebas dari dakwaan golongan agama, tok-tok guru pondok, para ustaz, para pelajar Al-Azhar yang mengaku bertaqlid pada imam dan mazhab Syafi'ie. Sungguh malang mereka kerana ternyata mereka masih enggan menerima kebenaran walau sudah sampai ilmu dan nasihat kepada mereka..
Mereka masih tetap angkuh dan mendakwa mereka benar dan tetap berfatwa yang bukan-bukan terhadap ayat Allah tanpa ilmu dan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih. Sungguh mereka benar-benar tidak takut pada celaan Allah swt :

 أَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ؟ " (البقرة: 80)

" Apakah kamu mengatakan sesuatu perihal Allah tanpa ilmu ?" (Surah Al-Baqarah : 80).

Sangatlah buruk perbuatan mereka dan sebahagian besar masyarakat yang masih berpegang kepada sangkaan dan keyakinan mereka bahawa mereka benar tanpa penyelidikan, penelitian dan pengkajian bagi mensabitkan apakah selama ini mereka berada dalam kebenaran atau selama ini mereka berada dalam penipuan, kesesatan dan kesilapan. Sesungguhnya sangka-sangka mereka sangatlah tidak bermanfaat dan tidak menyelamatkan mereka sedikitpun.

Benarlah kalam Allah
 swt :

إِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِى مِنَ الحَّقِِ شَيئًا (يونس :36

" Sungguh sangkaan mereka langsung tidak membawa manfaat pada mereka (dalam membawa mereka) kepada kebenaran sedikitpun" (Surah Yunus : 36). 
Bahkan tidak cukup sekadar itu baginda Salallahualaihiwasalam sendiri memperingatkan umatnya supaya tidak hanya bersangka-sangka dan terus bertaqlid sebaliknya menekankan soal ketelitian dan kebenaran. 
إياكم والظن فأن الظن أكذب الحديث 
" Berhati-hatilah kamu pada bersangka-sangka sesungguhnya bersangka-sangka itu sebesar-besar pembohongan." [15]

55: اِتَّبِعُوْا أَحْسَنَ مَا اُنْزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِكُمْ" (الزمر 
"Dan ikutlah apa yang terbaik yang telah diturunkan oleh tuhan kamu." (Surah Az-Zumar :55).

Sesungguhnya Sunnah Rasulullah Salallahualaihiwasalam merupakan khazanah berharga dan yang terbaik buat manusia maka itulah sebaik-baik pertunjuk dan sebaik-baik jalan yang telah dilalui oleh golongan sebelum kita. Semoga Allah menyelamatkan kita dari menjadi golongan yang merugi di dunia dan akhirat.


[1] Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.3095 & Baihaqi.
[2] Lihat Lisanul Arab m/s 469 cet. Darul Hadith Kaherah.
[3] Sila lihat Imam Syi'razi dalam Syarah Al-Luma' m/s 1005 Jilid 2 & Abu Khutob dalam Tahmid m/s 395 Jilid 4, 
[4] Lihat Sahih Fiqh Sunnah m/s 43 Jilid 1.
[5] Hadith Sahih disepakati Bukhari no.7352 & Muslim no. 4462.
 [6] Hadith Hasan, Riwayat Tirmidzi, Abi Syaibah dan Ahmad.
[7] Sila rujuk Hasyiyah Ibn A'bidin m/s 63 Jilid 1.
[8] Sila rujuk Ibn Abd Barr dalam Al-Intiqa fi Fadlul Salasa A'immah Fuqahah, m/s 145 dan Ibn Qayyim dalam I'lamul Muaqi'in, m/s 29.
[9] Sila rujuk Ibn Abd Barr, Al-Jami' m/s 91 Jilid 2, dan Ibn Hazm dalam Usul Ahkam, m/s 179 Jilid 2.
[10] Sila rujuk Ibn Qayyim dalam kitabnya "Al-I'lam" m/s 302 Jilid 2.
[11] Sila rujuk Imam An-Nawawi dalam kitabnya "Al-Majmuk", m/s 63 Jilid 2.
[12] Sila rujuk Ibn Abi Hatim dalam kitabnya "Adabul Syafi'ie", m/s 94.
[13] Hidayahtul Sulton.
[14] Sila rujuk Ibn Abi Hatim dalam kitabnya
 " Adabul Syafi'ie" m/s 93.
[15] Muttafaqun alaih
,Hadith Sahih disepakati Bukhari no. 5144 & Muslim no. 1563.